Voler’art adalah perusahaan abal-abal milik kami :
- An’nisa rahmasari
- Dianah Muna
- Eka Putri Pritari
- Prasasti Dewi
- Radika AyuErriawati
- Rosa haniatul Wafiroh
- Umi Maslakhah
Kata Voler sendiri tidak banyak yang tau, cuma kami bertujuh saja
yang tau, Voler berasal dari bahasa Perancis yang artinya terbang. Awalnya kami
bertujuh bingung memikirkan nama kelompok kewirausahaan, tugas yang diberikan
kepada guru pembimbing, kemudian kami usul satu persatu, dan aku mengusulkan
nama Voler berbahasa Perancis karena aku memang suka dengan Negara tersebut
apalagi dengan salah satu icon ternama di Ibukotanya yaitu Menara Eiffel di
Paris. Kemudian teman-temanku menyetujuinya dan ditambahkan kata ‘art
dibelakangnya karena perusahaan kami basicnya adalah dalam bidang desain dan
seni.
Kami adalah tujuh anak manusia yang awam akan berwirausaha, memang
sudah ada pengalaman sebelumnya, tapi kami belum begitu paham dengan
administrasi, koordinasi antar anggota, dan juga keuangan. Awalnya kami
bermodalkan uang sebesar Rp. 20.000 dan tekad. Kami berangkat membeli bahan pin
dan mug saja karena semua alat pembuatannya kami difasilitasi oleh sekolah.
Alhamdulillah pesanan bertubi-tubi datang kepada kami, uang berputar tak ada
hentinya, pemasukkan sangat kecil saat itu, pada suatu saat kami dipercaya oleh
Bussines Centre SMK Negeri 1 Kendal untuk membuatkan kartu anggotanya yang
berjumlah lebih dari 300 lembar, kas kami bertambah hampir Rp. 1.000.000;
kenaikan yang sungguh segnifikan. Tak pernah terbayangkan, usaha yang hanya
bermodal Rp. 140.000; bisa melejit seperti harapan dan do’a yang terselipkan
dalam nama. Tak hentinya kami mengucap syukur kepada Tuhan yang memberikan
rezeki kepada kami para anak sholeh :)
Pesanan demi pesanan kami garap dengan penuh canda tawa dan
koordinasi yang baik. Pada suatu saat datang hal yang tak pernah aku inginkan,
entah ada apa dengan teman-temanku dan juga aku, administrasi kacau, koordinasi
antar unit produksi bernatakan, komunikasi juga sulit dihubungkan antar satu
dengan lainnya, kami terpecah menjadi dua bagian, hal yang sungguh-sungguh
tidak aku inginkan, seperti tidak ada hati nurani antara kami, kami dikuasai
oleh ego masing-masing yang ingin menang sendiri, memang aku tak merasa aku
yang paling benar, akupun mengakui aku banyak salah, dan beberapa pesanan kami
garap sendiri dengan berkubu-kubu. Tak enah hati sendiri aku melihatnya,
setelah hampir 2 bulan kami musuhan dan tidak ada komunikasi aku baru sadar,
kebersamaan tujuh orang dengan kebersamaan hanya empat orang memang jauh
berbeda, ingin sekali meramaikan Lab MM lagi bersama keenam sahabatku,
menguasai Lab MM seperti milik nenek moyang sendiri, tak sadar banyak guru kami
bernyanyi lagu galau bahkan sampai dangdutan, pantang pulang sebelum diusir Pak
Joko dan hampir dikunciin Pak Panggih, malam minggu kami tidak kelayaban di
Alun-alun tapi di lab MM, berangkat petang pulang petang (hanya untuk aku,
hehew..), terlambat sholat karena asik di Lab MM, dan masih banyak kebahagiaan
kecil lainnya yang tak bisa kutulis semuanya. Tapi seiring berjalannya waktu,
kami mulai berfikir dewasa, kami memperbaiki hubungan dan akrab seperti semula.
Kami satu kubu tujuh anak lagi, kami mendapatkan hasil yang sungguh luar biasa,
segudang pelajaran dan ilmu, kebersamaan dan canda tawa, sahabat dan musuh,
banyak pelajaran dari sini, dan aku bangga kepada mereka semua yang telah
memberi warna dalam hidupku yang tak ternilai harganya.. :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar