Kamis, 29 Oktober 2015

Edisi kangen sahabat lama



Voler’art adalah perusahaan abal-abal milik kami :
  1. An’nisa rahmasari
  2. Dianah Muna
  3. Eka Putri Pritari
  4. Prasasti Dewi
  5. Radika AyuErriawati
  6. Rosa haniatul Wafiroh
  7. Umi Maslakhah
Kata Voler sendiri tidak banyak yang tau, cuma kami bertujuh saja yang tau, Voler berasal dari bahasa Perancis yang artinya terbang. Awalnya kami bertujuh bingung memikirkan nama kelompok kewirausahaan, tugas yang diberikan kepada guru pembimbing, kemudian kami usul satu persatu, dan aku mengusulkan nama Voler berbahasa Perancis karena aku memang suka dengan Negara tersebut apalagi dengan salah satu icon ternama di Ibukotanya yaitu Menara Eiffel di Paris. Kemudian teman-temanku menyetujuinya dan ditambahkan kata ‘art dibelakangnya karena perusahaan kami basicnya adalah dalam bidang desain dan seni.
Kami adalah tujuh anak manusia yang awam akan berwirausaha, memang sudah ada pengalaman sebelumnya, tapi kami belum begitu paham dengan administrasi, koordinasi antar anggota, dan juga keuangan. Awalnya kami bermodalkan uang sebesar Rp. 20.000 dan tekad. Kami berangkat membeli bahan pin dan mug saja karena semua alat pembuatannya kami difasilitasi oleh sekolah. Alhamdulillah pesanan bertubi-tubi datang kepada kami, uang berputar tak ada hentinya, pemasukkan sangat kecil saat itu, pada suatu saat kami dipercaya oleh Bussines Centre SMK Negeri 1 Kendal untuk membuatkan kartu anggotanya yang berjumlah lebih dari 300 lembar, kas kami bertambah hampir Rp. 1.000.000; kenaikan yang sungguh segnifikan. Tak pernah terbayangkan, usaha yang hanya bermodal Rp. 140.000; bisa melejit seperti harapan dan do’a yang terselipkan dalam nama. Tak hentinya kami mengucap syukur kepada Tuhan yang memberikan rezeki kepada kami para anak sholeh :)
Pesanan demi pesanan kami garap dengan penuh canda tawa dan koordinasi yang baik. Pada suatu saat datang hal yang tak pernah aku inginkan, entah ada apa dengan teman-temanku dan juga aku, administrasi kacau, koordinasi antar unit produksi bernatakan, komunikasi juga sulit dihubungkan antar satu dengan lainnya, kami terpecah menjadi dua bagian, hal yang sungguh-sungguh tidak aku inginkan, seperti tidak ada hati nurani antara kami, kami dikuasai oleh ego masing-masing yang ingin menang sendiri, memang aku tak merasa aku yang paling benar, akupun mengakui aku banyak salah, dan beberapa pesanan kami garap sendiri dengan berkubu-kubu. Tak enah hati sendiri aku melihatnya, setelah hampir 2 bulan kami musuhan dan tidak ada komunikasi aku baru sadar, kebersamaan tujuh orang dengan kebersamaan hanya empat orang memang jauh berbeda, ingin sekali meramaikan Lab MM lagi bersama keenam sahabatku, menguasai Lab MM seperti milik nenek moyang sendiri, tak sadar banyak guru kami bernyanyi lagu galau bahkan sampai dangdutan, pantang pulang sebelum diusir Pak Joko dan hampir dikunciin Pak Panggih, malam minggu kami tidak kelayaban di Alun-alun tapi di lab MM, berangkat petang pulang petang (hanya untuk aku, hehew..), terlambat sholat karena asik di Lab MM, dan masih banyak kebahagiaan kecil lainnya yang tak bisa kutulis semuanya. Tapi seiring berjalannya waktu, kami mulai berfikir dewasa, kami memperbaiki hubungan dan akrab seperti semula. Kami satu kubu tujuh anak lagi, kami mendapatkan hasil yang sungguh luar biasa, segudang pelajaran dan ilmu, kebersamaan dan canda tawa, sahabat dan musuh, banyak pelajaran dari sini, dan aku bangga kepada mereka semua yang telah memberi warna dalam hidupku yang tak ternilai harganya.. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar